Bahasa Indonesia Stadium 4 (Bagian Dua)

albayaanaat, uinsuka, bahasa indonesia, istilah baru dalam bahasa indonesia, istilah yang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia, pemakaian bahasa di media sosial, dialek poliwali, pola penulisan dan penambahan huruf,


Albayaanaat.com - Pada pembahasan sebelumnya, pemakaian bahasa pada media berorientasi pada pemakaian bahasa secara lisan. Namun, pemakaian bahasa pada media sosial memiliki pola yang sedikit berbeda, yaitu beriorientasi pada tulisan. Hal ini disebabkan oleh fungsi media sosial sebagai media menuangkan ide-ide dan curahan hati di samping menjadi media interaksi dan komunikasi. Hal ini sekaligus menjadi penyebab munculnya istilah-istilah baru dan penulisan yang tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang sering dijumpai pada media sosial facebook seperti tulisan-tulisan berikut. “Hadeeuuuewwwhhhh berat badan gua naik lagi…” , “Gws untuk qw sendiri ya...” , “Ayo sesok leplesing....” , “Karna aku tu chyang sma kamu.....”.

Pola penulisan dengan pertambahan huruf


Dalam penulisan pada media sosial, sering ditemukan beberapa kata yang diberi tambahan huruf seperti kata “Hadeeuuuewwwhhhh”, berasal dari kata “hadeh” yang bermakna sejenis keluhan.



Pola penyingkatan istilah bahasa Inggris

Istilah dalam bahasa Inggris seringkali digunakan pada pemakaian bahasa sosial media. Berdasarkan data, ada dua bentuk pola penyingkatan istilah berbahasa Inggris. Pertama, kata “GWS”, kepanjangan dari “God well soon” yang bermakna “semoga lekas sembuh”. Kedua, “OTW”, kepanjangan dari “on the way” yang bermakna “sedang di jalan”. 

Pemakaian bahasa pada media masa kini juga menyeret ragam partikel dialek bahasa daerah yang digunakan, seperti pemakaian bahasa Indonesia dalam instagram oleh remaja daerah Poliwali Mandar. Penggunaan bahasa Indonesia yang dipengaruhi dialek Poliwali ini terkesan sangat menghemat penggunaan kata. Berikut contoh kutipan pemakaian bahasa oleh remaja Poliwalimandar dalam media instagram.

@maliksyaf : “ kasi komenta sekaligus doata ”.

Partikel ta’ merupakan kepanjangan dari kita, yang berarti kamu atau kalian. Penghilangan konsonan seperti kata “kasih” menjadi “ kasi’” yang disebabkan karena masyarakat di Sulawesi Barat khususnya di Polewali Mandar menggunakan bahasa daerah Suku Mandar, ciri khas dari bahasa tersebut diakhir katanya kebanyakan menggunakan tanda kutip satu (‘), sehingga lidah orang Mandar yang terbiasa dengan penuturan seperti itu akhirnya mempengaruhi ketika mereka memakai bahasa Indonesia.

@hamipoetry_naya : Eee kamu cucu pertamanya pak Yasin met milad nak jadi kebanggaan kakek yasin yaaa sehat selalu rejeki ngalir sukses dunia akhirat nak @maliksyaf. Kata “Nak” disini, menandakan kata sapaan yang akrab dan santun di masyarakat Poliwali Mandar.

Selain itu, media juga dapat dijadikan lumbung kreativitas anak bangsa yang dapat bersaing dengan kemajuan teknologi yang serba canggih, mengembangkan ide-ide dan menuangkannya pada media teknologi, khususnya yang mashur dikalangan remaja, seperti penciptaan meme di instagram. Pemilihan kata atau kalimat memebiasanya disesuaikan dengan kondisi atau peristiwa yang masih hangat-hangatnya terjadi pada saat itu. 

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih.  

Posting Komentar

0 Komentar