Dari Krisis Lingkungan ke Wacana Sastra: Representasi Alam dalam Karya Sastra Arab Kontemporer


Saat ini, masalah lingkungan semakin sering kita rasakan, seperti cuaca yang tidak menentu, kekeringan, hingga polusi di kota-kota besar. Fenomena ini juga terjadi di negara-negara Arab, misalnya krisis air dan semakin menyempitnya lahan hijau. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga tercermin dalam karya sastra.

Para penulis sastra Arab mulai mengangkat isu lingkungan sebagai bagian dari karya mereka. Mereka tidak hanya menggambarkan alam sebagai latar, tetapi juga sebagai sesuatu yang sedang “bermasalah”. Dalam hal ini, sastra menjadi sarana untuk menyampaikan keresahan terhadap kondisi lingkungan. 

Jika dilihat dari sudut pandang bahasa, khususnya ekolinguistik, cara penulis dalam memilih kata sangat penting. Misalnya, ketika alam digambarkan sebagai sesuatu yang “terluka” atau “kehilangan”, pembaca akan lebih mudah merasakan simpati. Bahasa seperti ini membuat pembaca tidak hanya memahami masalah lingkungan, tetapi juga merasakannya. 

Contohnya dapat dilihat dalam karya Mahmoud Darwish. Dalam puisinya, tanah sering digambarkan bukan sekadar tempat, melainkan sesuatu yang memiliki makna mendalam tentang kehidupan, kehilangan, dan harapan. Hal ini menunjukkan bahwa alam memiliki hubungan emosional dengan manusia. 

Selain itu, dalam novel karya Naguib Mahfouz, kehidupan kota sering digambarkan penuh sesak dan jauh dari alam. Hal ini dapat dilihat sebagai kritik terhadap kehidupan modern yang kurang peduli terhadap lingkungan. Kota yang padat dan penuh polusi menunjukkan adanya perubahan dalam hubungan manusia dengan alam. 

Dari sini dapat dilihat bahwa karya sastra Arab tidak hanya bercerita, tetapi juga menyampaikan pesan. Bahasa yang digunakan penulis dapat memengaruhi cara pembaca dalam memandang lingkungan. Jika alam terus digambarkan sebagai sesuatu yang rusak, pembaca dapat menjadi lebih sadar bahwa ada masalah yang perlu diperbaiki. 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fenomena lingkungan yang terjadi di dunia nyata juga tercermin dalam karya sastra Arab. Melalui bahasa yang sederhana, tetapi bermakna, para penulis mencoba mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap lingkungan. 



Sumber:

Ahmed, S. (2024). Ecocritical concerns in Mahmoud Darwish’s poetry.

Al-Masri, A. (2025). Ecological metaphors of resistance in Mahmoud Darwish’s poetry. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.

Hassan, M. (2021). Metaphors stemming from nature in the poetry of Mahmoud Darwish.

Ibrahim, L. (2023). The second olive tree: An ecocritical reading of Mahmoud Darwish.



Aida Ghifary Zakiyah, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.


Posting Komentar

0 Komentar