Lampu neon di atas meja nomor 42 berkedip sesaat, seolah ikut kelelahan menatap tumpukan perkamen digital dan buku-buku tebal yang berserakan. Nibras menghela napas panjang, mengusap matanya yang perih di balik kacamata. Di layar laptopnya, sebuah foto resolusi tinggi dari manuskrip Arab abad ke-13 terpampang. Ada satu kata yang tintanya luntur dimakan usia.
"Masih meratapi kertas buram itu, Bras?"
Suara Farras memecah keheningan. Sahabatnya itu berdiri di ambang pintu ruang referensi dengan tas ransel yang sudah bertengger rapi di bahu.
Nibras memutar layar laptopnya ke arah Farras. Jari telunjuknya mengetuk bagian yang memudar. "Lihat ini, Ras. Titik di atas huruf ini hilang. Aku terjebak. Apakah ini berakar dari huruf 'Ayn (ع) atau Hamzah (أ)? Jika ini 'Ayn, maknanya mengarah pada sesuatu yang dalam dan tersembunyi. Tapi jika ini Hamzah, maknanya hanya bekas atau jejak biasa."
Farras mendengus pelan, menarik kursi dan duduk di hadapan Nibras. "Lalu apa masalahnya? Buka saja korpus digital. Tebak mana yang paling cocok dengan konteks kalimatnya. Selesai. Dosen penguji skripsi kita tidak akan membedah pita suaramu untuk mengecek makharij al-huruf-nya."
"Ini bukan sekadar soal lulus ujian, Ras!" nada suara Nibras sedikit meninggi. "Filologi dan linguistik Arab itu bukan ilmu tebak-tebakan. Perbedaan makhraj dari tenggorokan bagian tengah dan bawah itu punya filosofi. Kalau aku salah menentukan akar suaranya, aku merusak warisan pemikiran penulis aslinya."
"Kau terlalu idealis." Farras menggelengkan kepala. "Di dunia akademik sekarang, kecepatan publikasi lebih penting daripada merenungi sifat huruf berhari-hari. Sudahlah, Pak Mundzir sudah batuk-batuk di bawah. Sepuluh menit lagi perpustakaan tutup. Ayo pulang."
Farras beranjak pergi, meninggalkan Nibras yang kembali tenggelam dalam keheningan. Nibras menarik sebuah buku tebal bersampul merah tua ke hadapannya: Kitab al-’Ayn, kamus pertama dalam sejarah yang disusun oleh Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Matanya menelusuri barisan teks yang rumit itu, mencari pola fonologis kuno. Perlahan, kelelahan menang. Pandangan Nibras mengabur, dan tanpa sadar kepalanya terkulai di atas tumpukan buku.
Tiba-tiba, udara perpustakaan yang dingin dan berbau kertas lembap berubah. Embusan angin hangat membawa aroma misk dan debu padang pasir.
Nibras membuka mata. Ia tidak lagi berada di ruang referensi kampus. Di sekelilingnya menjulang pilar-pilar batu berukir kaligrafi khas Kufi. Di tengah ruangan yang menyerupai aula besar itu, duduk seorang pria paruh baya dengan sorban putih sederhana. Di pangkuannya terdapat lembaran-lembaran perkamen.
"Duduklah, anak muda. Suara napasmu terlalu bising untuk tempat ini," ucap pria itu lembut, tanpa mengalihkan pandangannya dari perkamen.
Nibras melangkah ragu. "Ini... di mana? Anda siapa?"
Pria itu tersenyum tipis. "Orang-orang memanggilku Al-Khalil. Dan ini adalah pelataran majelisku di Bashrah. Kulihat kau kebingungan membedakan letak suara."
Jantung Nibras berdegup kencang. Ia berhadapan dengan sang peletak dasar 'Ilm al-Aswat (ilmu bunyi bahasa Arab). "Syekh... saya terjebak pada satu huruf dalam naskah. Tinta itu pudar. Saya tidak bisa membedakan apakah penulisnya memaksudkan suara dari pangkal tenggorokan atau tengah tenggorokan."
"Di situlah kesalahan para sarjana di zamanmu," potong Al-Khalil tegas. Ia meletakkan pena bulunya. "Kalian melihat bahasa Arab hanya sebagai gambar mati di atas kertas. Kalian lupa bahwa huruf adalah jasad, dan suara adalah ruhnya."
Seorang pemuda lain yang sedari tadi duduk mencatat di sudut ruangan menyela dengan hormat. "Bukankah begitu, Guru? Makanya Guru menyusun kamus ini tidak berdasarkan urutan alfabet Alif, Ba, Ta, melainkan dari huruf 'Ayn—suara terdalam yang bergetar dari dada manusia."
"Benar, Sibawaih," jawab Al-Khalil. Ia menatap lekat ke arah Nibras. "Dengarkan baik-baik. Huruf 'Ayn memiliki sifat yang tertahan dan dalam; ia mewakili makna yang substansial. Sedangkan Hamzah lebih ringan, mewakili sesuatu yang muncul ke permukaan. Tutup matamu, baca keseluruhan kalimat dalam naskahmu, dan dengarkan ritmenya. Akalmu mungkin tertipu oleh tinta yang pudar, tetapi pendengaran batinmu terhadap harmoni kalimat tidak akan bohong."
"Harmoni..." gumam Nibras.
"Ya. Bahasa ini dibangun di atas harmoni. Setiap isytiqaq (derivasi kata) memiliki nada dasar. Jika kau memaksakan huruf yang salah, kalimat itu akan terdengar sumbang."
Suara gebrakan meja menyadarkan Nibras seketika.
"Mas Nibras! Astaga, saya pikir pingsan!" Pak Mundzir berdiri di depannya sambil memegang senter dan kunci ruangan. "Sudah jam setengah dua belas malam. Alarm utama mau saya nyalakan."
Nibras terkesiap, mengusap liurnya yang hampir menetes di sampul Kitab al-'Ayn. Napasnya memburu, namun kepalanya terasa sangat jernih. Perkataan Al-Khalil terngiang kuat di telinganya. Tutup matamu, dengarkan ritmenya.
Ia segera menatap layar laptopnya, memejamkan mata, dan melafalkan kalimat manuskrip itu berulang-ulang di dalam hati. Memasukkan unsur Hamzah membuatnya terdengar kaku dan tak bermakna dalam konteks paragraf. Namun, ketika ia meletakkan tekanan 'Ayn dalam pelafalannya, seluruh struktur kalimat itu tiba-tiba menjadi hidup, harmonis, dan filosofis.
"Ini 'Ayn..." bisiknya dengan senyum lebar. "Akar katanya berawal dari dada."
"Mas Nibras bicara sama siapa?" tanya Pak Mundzir merinding.
"Ah, tidak, Pak. Maaf, saya beres-beres sekarang."
Nibras memasukkan laptopnya ke dalam tas dengan perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan. Malam itu, ia tidak hanya menemukan jawaban untuk satu kata yang hilang di bab dua skripsinya. Lebih dari itu, ia menemukan kembali alasan mengapa ia jatuh cinta pada dunia akademik bahasa Arab. Bukan untuk mengejar publikasi instan seperti kata Farras, melainkan untuk menjaga harmoni peradaban, agar suara dari masa lalu tidak pernah benar-benar mati tenggelam dimakan zaman.
Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.


0 Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan