Masuknya Perempuan ke Dunia Sastra

sastrawan perempuan, penulis perempuan indonesia, lahirnya sastra indonesia, perenulis perempuan, ayu utami, jenar mahesa ayu, nh. dhini, abidah el khaelieqy, sosiologi sastra, sastra, penulis, sastrawan

Albayaanaat.com - Secara sosiologis, sastra merupakan gambaran kehidupan, potret  fenomena sosial, kejadian secara konkret yang terjadi di masyarakat atau kenyataan sosial (Faruk: 2010). Sastra dapat muncul sebagai bentuk kritikan terhadap gejala sosial dan menjadi cermin dari suatu fenomena sosial bahkan budaya yang ada. Karya sastra sendiri dapat berupa segudang cerita yang  diangkat dari berbagai sudut pandang pengarang yang secara umum tema-temanya diadopsi dari peristiwa sosial, salah satunya tentang perempuan. Kehidupan yang diangkat dalam karya sastra pun dapat meliputi hubungan antarmasyarakat, individu, atau peristiwa yang terjadi di dalam batin seseorang, baik berupa pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain.

Dalam sastra, perempuan seringkali menjadi topik yang diangkat  dan diperbincangkan bahkan kerap menjadi lakon atau pemeran utama. Di dalam karya sastra, perempuan selalu ditempatkan sebagai objek kajian, baik dalam puisi, cerpen, novel, maupun lainnya, sedangkan laki-laki begitu mendominasi sebagai penulis atau pengarang karya sastra itu sendiri. Jika  mengengok kembali ke masa silam, posisi perempuan kala itu benar-benar tidak menguntungkan. Di setiap segi kehidupan, mereka terkesan lemah dan menjadi warga kelas dua bahkan berada di bawah bayang-bayang keperkasaan laki-laki. Hal tersebut menjadikan perempuan tidak memiliki hak untuk mengungkapkan pikiran dan permasalahn hidupnya dalam karya sastra.

Di masa lampau, wanita Indonesia bernasib sama seperti  wanita di belahan bumi lain. Kentalnya budaya patriarki di zaman kerajaan yang masih terus diturunkan hingga saat ini membuat wanita tidak memiliki hak apapun atas hidupnya. Ketidakpuasan terhadap keadaan yang menghimpitnya menjadikan perempuan Indonesia mulai menggeliat. Hal itu pun merebak ke sendi-sendi kehidupan yang lain, sastra salah satu contohnya. Seiring berjalannya waktu, sejumlah penulis perempuan mulai bermunculan di kancah penulisan sastra terutama sastra Indonesia. 

Setidaknya ada enam pengarang wanita yang pernah bersinar pada zamannya. Sebut saja Selasih atau Seleguri yang bernama asli Sariamin Ismail (periode 1933−1942), Hamidah atau Fatimah H. Delais (periode1935−1953), Adlin Affandi, dan Sa’adah Alim  yang merupakan salah satu penulis perempuan yang berani menentang adat. Dialah satu-satunya wanita pengarang drama waktu itu. Karya-karya Sa’adah berkisar tentang pertemuan dan perceraian yang akhirnya bertemu kembali dengan keadaan yang lebih bahagia. 

Lalu, di era 1990-an sampai sekarang, sejumlah penulis lain dan pengarang perempuan mulai banyak bermunculan dengan karya-karyanya yang variatif dan memiliki ciri masing-masing. Hal ini membuktikan ruang bagi perempuan untuk berkarya jauh lebih baik dan mendapatkan tempat dibandingkan dengan masa-masa awal kelahiran sastra Indonesia. Bahkan perubahan estetika sastra berubah sejak kehadiran novel Saman karya Ayu Utami. Dalam hal ini, Ayu Utami sangat berani mengeksploitasi tubuh dengan diksi-diksi yang menjurus kepada seks sehingga menyentak dunia sastra. Ia tidak lagi menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan sakral yang tidak pantas diungkapkan di depan khalayak. Hal tersebut sangat bertentangan dengan budaya Timur yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Keberaniaanya itu tidak sedikit menuai pujian dan kritikan, tetapi begitulah sastra. 

Akhir-akhir ini, salah satu fenomena yang menarik dalam khazanah sastra Indonesia adalah munculnya sejumlah penulis perempuan yang merupakan generasi muda, seperti Dee Lestari (Supernova I, II), Jenar Mahesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet,2003, dan Jangan Main-Main dengan Kelaminmu, 2004), Abidah El Khalieqy (Perempuan Berkalung Sorban), dan lain-lain.  Munculnya sejumlah penulis  perempuan dalam panggung dunia sastra tampaknya memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan  transformasi sosio-kultural Indonesia, yang antara lain merupakan hasil perjuangan wanita terutama kaum feminis dan emansipatoris perempuan. Para feminis dan pejuang emansipasi perempuan ingin mendudukkan eksistensi perempuan dalam kesetaraan gender sehingga saat ini sastra tidak hanya digeluti oleh kaum laki-laki dengan ideologi patriarkinya dan perempuan tidak lagi sekadar menjadi pemeran dalam karya sastra tetapi juga turut memberikan pengaruh besar dalam dunia sastra dengan pemikiran yang lebih dinamis.

Perempuan dalam sastra jauh memiliki peranan dan pengaruh yang lebih besar, baik dalam bentuk perlawanan sebagai kaum feminis maupun sekadar ekspresi seni belaka  Terbatasnya hak yang dimiliki wanita untuk mengungkapkan segala pemikirannya pada zaman dahulu, kini telah tersingkap. Wanita yang dulu dipandang sebelah mata dan hanya dijadikan sebagai obyek semata, kini memilih menjadi pelaku perubahan. Penulis perempuan di zaman sekarang pun memiliki keleluasaan penuh dalam menuangkan pikirannya. Mereka tidak hanya sekedar menuliskan romansa kesedihan seputar kehidupan mereka dan tetap berkutat pada kodrat mereka sebagai perempuan, tetapi juga lebih berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan gaya hidup.

Karya sastra merupakan cerminan suatu zaman. Jika ingin mengetahui keadaan suatu kaum atau masyarakat, lihatlah bagaimana karya sastra di tengah-tengah masyarakatnya. Semakin baik keadaan masyarakat, maka semakin baik pula karya sastra. Begitu pula sebaliknya. Adapun gagasan yang terkandung dalam karya sastra terbangun dalam zaman ketika karya sastra itu lahir.

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih. 

Posting Komentar

0 Komentar