Warisan Nama Baik



Batu nisan putih dengan tanda salib demikian asing terlihat. Dedaunan kering tersapu angin bergulung menyapu tanah, diselimuti butiran putih menghadirkan sunyi setelah gerimis kehidupan menerpa jalanan.

Inilah saat mengenang gugurnya pengacara mafia yang meninggalkan gelar ‘nama baik’ bagi anaknya. Pria ini hidup antara tahun 1920 sampai 1930 bernama Easy Eddy. Easy Eddy adalah pengacara ulung. Dia begitu luar biasa, hingga menjadi pengacara mafia di Chicago yang dipimpin oleh Al Capone pada masa itu. Dia begitu lihai sebagai  pengacara, mengerti hukum, punya banyak koneksi dan ahli manipulasi data dengan berbagai taktik. Tak peduli seberapa besar tuntutan yang dihadapi oleh Al Capone dan anak buahnya, para penegak hukum tak dapat memenjarakan mereka. 

Mereka tidak dapat menghukum para mafia, karena Eddy begitu ulungnya menjadi pengacara dan begitu bernilai. Para mafia memberinya sangat banyak uang. Hartanya melimpah mulai jet pribadi, properti di seluruh blok kota, rumah-rumah mewah, mobil-mobil terbaik, apapun yang terbaik. Dan anak laki-lakinya, dapat melakukan apa saja yang dia inginkan. 

Sore itu Eddy menyalakan lagu Over the Rainbow, ia tampak khusyuk mendengarkan suara Judy Garland dan Glenn Miller. Sejenak kemudian Easy Eddy berpikir.

-Aku sudah memberikan anakku semuanya. Semua yang dapat dibeli dengan uang. Tapi satu hal yang belum aku berikan pada anakku, aku belum menjadi teladan yang baik sebagai ayah. Ayah yang dibanggakan anaknya. Ucapnya dalam hati.

“Bagaimana kau mewujudkan tekadmu?”

Suara itu, Eddy tak tahu asalnya. Tapi rasanya ia pernah mendengarnya. Eddy melirik alat musik yang ia putar, Judy Garland tak bernyanyi lagi. Ya ingatannya melayang pada perusakan toko seorang kakek yang hanya hidup dengan cucunya. Ia tak mau membayar saat mafia memerasnya. 

Ia bersembunyi di balik tembok dan berkata, “Aku telah mewujudkan tekadku menjadi kakek yang baik.”

“Bagaimana denganmu?” cetusnya. 

Eddy hanya melihat dari kejauhan. Lagi-lagi perannya hanya membebaskan mafia-mafia berdosa itu. 

Eddy memikirkan hal ini beberapa waktu, akhirnya ia sampai pada kesimpulan. Satu-satunya hal yang dapat ia berikan kepada anaknya yaitu  warisan ‘nama baik’ seorang ayah.  Dengan membantu pemerintah memenjarakan para mafia. Karena mafia membunuh orang tak berdosa, dulu Eddy membebaskan mafia ini. Membebaskan orang-orang yang kecanduan narkoba dan alkohol. Memeras pemilik toko kecil yang tak bersalah, yang berjuang demi hidup mereka.

Para mafia mengatakan, “Bayar kami pajak dengan harga tinggi atau kami bom tokomu.”

Mereka benar-benar mengebom toko-toko kecil itu, dulu Eddy selalu membantu mereka lepas dari tuntutan.

Hujan di atas balkon rumah pagi itu turun deras. Terdengar suara daun pintu dibuka. Butch menyalakan lampu dan duduk di sudut dipan. 

“Enak tidurnya, yah?” 

Ia mengambil mainannya manja kepada Eddy.

Eddy mengucek-ucek mata lalu bilang kalau malam tadi baru bisa terlelap sekitar pukul dua.

-Padahal masih ada berkas dan bukti yang belum kuserahkan ke polisi. Rutuk Eddy dalam hati.

“Yah?” sahut anak kecil itu cepat. 

“Aku ingin bermain mobil-mobilan dengan ayah. Aku ingin ayah jadi superhero-nya, menyelamatkan bunda, dan aku jadi penjahatnya.” rengeknya pada Eddy. 

Eddy bangkit meraih boneka Robin Hood, mengikuti keinginannya.

“Butch senang ayah jadi superhero?” tanya Eddy pada anaknya. 

“Tentu, ayah.” jawabnya.

“Kalau ayah gugur, Butch sedih?” tanya Eddy lirih pada anak berusia sembilan tahun itu. 

-Aku sangat tak menginginkan anggukan darinya. Batin Eddy.

“Hmm enggak, ayah.” jawab Butch singkat.

Eddy bersyukur sekaligus penasaran. 

“Benar, adik gak sedih?” tanyanya lagi.

“Aku pasti sedih ditinggal ayah, tapi kalau ayah mati karena jadi superhero, aku janji gak bakal nangis.” jawab Butch dengan mulut kecilnya. 

“Jangan tinggalin Butch dulu, yah. Kan belum jadi superhero.” cetus anak itu. 

“Siap, komandan.” jawab Eddy menatap sambil memegang pundaknya. 

Setelah membuat pilihan, Ia membantu FBI dengan memberi kesaksian hingga banyak dari para mafia kelas kakap berhasil dijebloskan ke penjara. Ia tahu kemungkinan terburuk ia akan dibunuh atas perbuatannya cepat atau lambat. 

Suatu hari saat ia mengendarai mobilnya, 

“Dor, dor, dodor, dor.” terdengar suara tembakan. 

Kaca mobilnya berlubang terkena peluru. Eddy yang terluka tak terkendali hingga menabrak dinding tua.  Beberapa orang dengan pakaian serba gelap memegang senapan api,  mendekati Eddy mengisi tubuhnya dengan banyak peluru hingga ia terjatuh dan meninggal di jalanan. Ia membayar dengan sangat mahal untuk memberi anaknya sosok Ayah yang dapat dibanggakan di kemudian hari. Pengorbanan tersebut adalah harga yang tak dapat ditawar tetapi baginya setimpal.

Masih di satu kota, seorang pria bertugas di militer pangkalan udara United States Air Force. Selama perang dunia II ia bertugas di kapal perang USS Lexington. Ia lepas landas dari kapal itu terbang bersama Eskadron dengan enam sampai tujuh pesawat lain untuk berperang melawan Jepang. Saat mereka mengawan di langit, ia menyadari bahwa petugas di kapal lupa mengisi tangki bahan bakar pesawatnya. Ia lalu menghubungi kaptennya melalui radio.

“Saya harus kembali, kapten. Bahan bakar pesawatku menipis.” ujar pilot itu.

“Silakan kembali, kami terus maju.” ucap kapten Eskadron.

Dalam perjalanannya kembali, ia melihat sembilan pesawat pengebom Jepang datang untuk menenggelamkan satu kapal USS Lexington, yang di dalamnya terdapat ratusan awak kapal. Ia hanya sendiri sedang di hadapannya ada sembilan pesawat tempur.

Dengan sigap ia memutuskan. 

-Saya harus menghentikan mereka, sebab tak ada yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ujar pilot dalam hati. 

Ia mulai menembaki pesawat-pesawat itu.

“Dor, dor, dodor, dor.”

Dua di antaranya jatuh ke laut. Masih sisa tujuh sedang ia mulai kehabisan peluru. Pertempuran jarak jauh tak terelakkan, pesawat Jepang mulai melancarkan serangan menembakinya dan mengejarnya. Ia begitu antusias menghabiskan sisa amunisi yang ada tanpa merasa takut. Ia terbang meliuk-liuk ke atas, ke samping dan ke bawah.

“Shut, shut, shut.” bunyi tembakan musuh. 

Ia tak habis akal, meski amunisinya telah habis dan musuh terus mencoba menjatuhkannya. Ia langsung merusak sayap dan ekor pesawat Jepang itu dengan menabraknya. Tiga di antaranya jatuh ke laut. Lima pesawat Jepang pun lumpuh.

Empat pilot pesawat Jepang  berfikir, “Ini orang gila, yang tak takut mati.” 

Subete no Guntai, mari kita pergi dari sini.” komando kapten pesawat Jepang. 

Hingga akhirnya mereka terbang menjauh.

Ia lalu kembali ke kapal induk dengan pesawat yang compang-camping. Orang-orang di kapal USS Lexington melihat semua yang terjadi. Dia orang pertama di US Air Force yang memperoleh Congressional Medal of Honor yang mana adalah penghargaan tertinggi. Ia bernama Butch O'Hare. Namanya diabadikan di Bandara Internasional Chicago O'Hare International Airport. Ia juga dipertimbangkan menjadi salah satu dari pahlawan terbesar dalam sejarah Amerika. Karena kegigihannya mengorbankan nyawanya untuk kepentingan bangsa. Yang membuat cerita ini menarik adalah bahwa Butch O'Hare adalah putra dari Easy Eddy (Edward O'Hare). Pondasi yang berasal dari warisan ‘nama baik’.


Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tertulis, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter  albayaanaat.com  sebagai media keilmuan mahasiswa bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi  albayaanat.uinsuka@gmail.com  dengan melampirkan biodata pribadi dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik submit  valid . Terima kasih. 

Posting Komentar

2 Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan