Ritsa’: Menemukan Kedalaman Empati dan Solidaritas dalam Kerapuhan Sastra Arab Klasik

Riuh rendah kehidupan modern sering kali memaksa manusia tampil sempurna, tangguh, dan tanpa cela. Kita terjebak dalam arus media sosial yang penuh pencitraan kebahagiaan serta pencapaian instan, sehingga kesedihan seolah menjadi aib yang harus disembunyikan rapat-rapat. Padahal, sejarah panjang kemanusiaan mencatat bahwa pengakuan akan kerapuhan justru merupakan fondasi paling kokoh bagi solidaritas.

        Sastra Arab klasik, melalui puisi ritsa’ atau ratapan, telah lama menyediakan ruang sunyi tersebut. Sebuah tempat di mana air mata tidak dianggap sebagai kelemahan, melainkan sebagai bahasa universal yang menyatukan hati manusia.

        Puisi ritsa’ bukan sekadar seni menangisi kematian atau untaian kata perpisahan. Tradisi Arab klasik menempatkan puisi ratapan sebagai sebuah sarana sosial yang memiliki fungsi vital. Saat seorang penyair menggubah bait-bait duka, ia tidak hanya mengekspresikan duka pribadinya, melainkan sedang mewakili perasaan kolektif komunitasnya.

        Sastra Arab klasik memahami bahwa duka yang dipendam sendirian akan menjadi racun bagi hati. Namun, ketika duka tersebut dituangkan ke dalam kata-kata yang jujur dan dibagikan dalam majelis-majelis sastra, ia mengalami proses "penyaluran emosi". Beban yang awalnya terasa sesak karena dipikul sendirian mulai terurai dan terbagi di antara para pendengarnya. Inilah bentuk awal dari empati, kemampuan untuk memikul beban perasaan orang lain melalui kekuatan kata.

        Keberanian berekspresi ini menemukan puncaknya pada karya Tumāḍir bint ʿAmr atau yang lebih dikenal sebagai Al-Khansāʾ. Sebagai salah satu penyair perempuan terbesar, Al-Khansāʾ mengubah duka pribadi atas kematian saudaranya menjadi monumen sastra yang melintasi zaman. Ia bersyair dalam baitnya yang sangat menyentuh:


ذَكَرْتُ أَخي بَعدَ نَومِ الخَليِّ ... فَانحَدَرَ الدَّمعُ مِنِّي انحِدَارَا


"Aku teringat saudaraku saat orang-orang yang tenang hatinya telah terlelap tidur, maka mengalirlah air mataku dengan derasnya."


Kalimat tersebut bukan sekadar keluh kesah, melainkan sebuah pengakuan jujur akan kerapuhan ketika dunia di sekitarnya tertidur. Al-Khansāʾmenyatakan bahwa kesedihannya merupakan sesuatu yang ia pikul sendiri saat orang lain beristirahat. Namun melalui syairnya, kesunyian itu ia pecahkan agar dunia tahu betapa berat beban tersebut.


Baca juga: Cahaya di Balik Prasangka: Kajian Empati dan Solidaritas Kemanusiaan dalam Novel “Janji”


        Pengakuan tulus ini memberikan ruang bagi orang lain untuk mengakui hal yang sama. Inilah yang kita sebut sebagai solidaritas dalam kerapuhan, sebuah ikatan yang lahir karena kita saling menyadari bahwa sebagai manusia, kita sama-sama bisa terluka.

        Kekuatan empati dalam sastra Arab klasik juga terletak pada ketelitian diksinya yang luar biasa dalam membedah lapisan emosi. Bahasa Arab memiliki khazanah kosa kata yang sangat kaya untuk mendefinisikan rasa sakit. Kita mengenal istilah “huzn” untuk kesedihan yang umum, “asaf” untuk duka yang disertai dengan rasa sesal, hingga “lahaf” untuk kerinduan yang menyiksa akibat kehilangan yang mendalam.

        Ketajaman pilihan kata membantu perasaan yang terpendam terasa diakui. Sering kali, seseorang merasa menderita karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Di sinilah sastra Arab klasik hadir untuk memberikan nama pada perasaan yang sebelumnya terasa samar. Ketika perasaan itu menemukan bentuknya dalam kata-kata, proses penyembuhan pun mulai terbuka. Melalui pengalaman yang ditulis orang lain, pembaca menyadari bahwa rasa sakit yang ia rasakan ternyata juga pernah dialami oleh manusia berabad-abad sebelumnya.

        Budaya Arab klasik memandang kegiatan mendengarkan puisi ratapan sebagai sebuah ritual menenangkan hati. Ketika sebuah komunitas berkumpul untuk mendengarkan seorang penyair meratap, mereka tidak hanya bersimpati pada si penyair, tetapi juga menyambungkan duka tersebut dengan duka-duka pribadi mereka yang belum selesai.

        Prinsip ritsa’ dalam konteks kemanusiaan yang lebih luas mampu mendidik kita mengenai etika solidaritas yang sering kali terlupakan di era modern. Ia mengajarkan bahwa menunjukkan rasa peduli kepada mereka yang tertindas atau berduka tidak selalu harus dilakukan melalui solusi praktis. Terkadang, bentuk solidaritas tertinggi adalah kesediaan kita untuk mengakui keberadaan luka tersebut dan memberikan ruang bagi narasi duka mereka untuk didengar.

        Warisan terbesar dari puisi ritsa’ pada akhirnya bukan terletak pada teknis rima yang rumit, melainkan pada keberaniannya untuk jujur pada rasa sakit. Dengan demikian, sastra Arab klasik membuktikan bahwa kejujuran emosional adalah jembatan paling murni yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya, melampaui batas ruang dan waktu.


Aditya Ulin NuhaMahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih.

Posting Komentar

0 Komentar