Sastra selalu memiliki cara unik untuk mengetuk pintu nurani yang paling sunyi, menjadi jembatan yang menghubungkan batin manusia melampaui sekat geografi maupun budaya. Dalam novel “Janji” karya Tere Liye, kita tidak sekadar menemukan narasi tentang pencarian fisik seorang lelaki bernama Bahar Safar, melainkan sebuah pengembaraan metafisik yang sangat kental dengan nuansa nilai-nilai universal yang berakar kuat pada tradisi Timur Tengah. Melalui kacamata kajian sastra, karya ini berdiri kokoh sebagai manifesto kemanusiaan yang mengajak pembacanya melakukan dekonstruksi terhadap stigma dan merajut kembali tali solidaritas yang sering kali terputus oleh penghakiman sosial.
Struktur naratif novel ini dibangun di atas fondasi yang menyerupai tradisi rihlah dalam khazanah intelektual Arab, yaitu sebuah perjalanan panjang yang dilakukan bukan sekadar untuk berpindah tempat, melainkan untuk menjemput hikmah. Ketika tiga santri muda—Hasan, Baso, dan Kahar—diutus oleh Buya mereka untuk menelusuri jejak Bahar Safar, mereka sesungguhnya sedang menjalani proses pembersihan jiwa.
Dalam perspektif sastra, perjalanan ini adalah alegori dari transisi emosional, di mana karakter-karakter tersebut bergerak dari kegelapan prasangka menuju terangnya empati. Dunia Arab mengenal konsep adab yang sangat mendalam, di mana seseorang dinilai bukan hanya dari keluasan ilmunya, melainkan dari kemampuannya menempatkan diri dan menghargai martabat manusia lain. Ketiga santri ini berangkat dengan membawa label "buruk" terhadap Bahar, namun narasi Tere Liye perlahan-lahan membongkar label tersebut, memaksa pembaca untuk mempraktikkan tasamuh atau kelapangan hati agar bisa melihat kebenaran yang tersembunyi.
Analisis psikologis terhadap tokoh Bahar Safar mengungkap kedekatan karakter ini dengan konsep Sufi Malamatiyah yang masyhur dalam sejarah spiritualitas Arab. Kaum Malamatiyah adalah mereka yang tidak peduli pada citra luar. Mereka membiarkan diri mereka tampak hina di mata manusia agar hubungan mereka dengan Sang Pencipta tetap murni dan terjaga dari racun riya. Bahar Safar adalah personifikasi modern dari nilai ini. Ia hidup sebagai narapidana, pemabuk, dan pengembara yang terpinggirkan. Namun di balik selubung kegelapan itu, ia mempraktikkan solidaritas kemanusiaan yang luar biasa.
Kajian sastra ini menyoroti bahwa empati Bahar lahir dari rahim penderitaannya sendiri. Karena ia pernah merasakan pedihnya diabaikan, ia justru menjadi sosok yang paling peka terhadap penderitaan orang lain. Ia bersolidaritas dengan para tawanan yang tertindas dan masyarakat miskin tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dalam tradisi ksatria Arab atau futuwwah, seorang pahlawan sejati adalah ia yang mampu mendahulukan kepentingan sesama di atas kepentingan pribadi, meski ia sendiri berada dalam kehinaan. Bahar menempati posisi ini dengan sangat anggun. Ia menjaga kejujuran dan integritasnya sebagai bentuk ihsan, sebuah kesadaran bahwa Tuhan selalu menyaksikannya meskipun dunia telah memalingkan muka.
Dari sisi sosiologi sastra, novel “Janji” melakukan kritik tajam terhadap masyarakat yang kehilangan muru’ah atau martabat kemanusiaan yang luhur. Masyarakat dalam novel ini sering kali digambarkan sebagai hakim-hakim sosial yang gemar melabeli seseorang dengan stigma abadi tanpa memberikan ruang untuk penebusan. Fenomena ini beresonansi dengan karya-karya sastrawan besar Arab seperti Naguib Mahfouz, yang sering memotret nasib orang-orang kecil yang dihimpit oleh sistem sosial yang kaku di lorong-lorong kota tua. Solidaritas kemanusiaan dalam novel ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik tersebut. Ketika Bahar melindungi sesama narapidana atau menolak mengambil emas yang bukan miliknya, ia sesungguhnya sedang menegakkan kembali martabat manusia yang telah diinjak-injak.
Tere Liye seolah ingin menekankan bahwa kebaikan sejati tidak ditemukan di podium-podium megah, melainkan di tempat-tempat yang paling tidak terduga. Nilai takaful atau saling menanggung beban dalam masyarakat Arab dipraktikkan oleh Bahar secara anonim, membuktikan bahwa solidaritas yang paling murni adalah solidaritas yang bergerak dalam sunyi.
Metafora kata “janji” yang menjadi judul sekaligus napas utama novel ini memiliki bobot teologis yang sangat berat, sejajar dengan konsep al-’ahdu dalam bahasa Arab. Janji adalah ikatan suci yang mengikat jiwa manusia. Bagi Bahar, janji kepada gurunya adalah jembatan yang menghubungkan masa lalunya yang kelam dengan masa depannya yang bercahaya. Empati dalam narasi ini bekerja secara timbal balik, bermula dari empati sang guru yang tidak pernah memutus harapan pada muridnya yang tersesat, hingga berujung pada pengabdian Bahar kepada kemanusiaan.
Pola hubungan ini mencerminkan tradisi guru dan murid dalam dunia Arab yang penuh kasih sayang dan bimbingan tanpa batas. Kajian ini menyimpulkan bahwa janji bukan sekadar masalah moralitas individu, melainkan semen yang merekatkan bangunan sosial. Tanpa integritas untuk menepati janji, kemanusiaan akan hancur menjadi kumpulan individu yang saling memangsa.
Secara keseluruhan, novel Janji berhasil mentransendensikan nilai-nilai lokal pesantren ke dalam konteks humanisme global yang inklusif. Melalui sosok Bahar Safar, kita diingatkan bahwa empati adalah kemampuan untuk melihat nilai ketuhanan dalam diri setiap manusia, termasuk dalam diri mereka yang telah dianggap hilang oleh masyarakat. Novel ini tidak hanya menyuguhkan cerita menghibur, melainkan menawarkan sebuah refleksi mendalam bagi nurani kita. Ia mengajak pembaca, baik yang berakar pada budaya Indonesia maupun yang terinspirasi oleh nilai-nilai Arab, untuk berhenti menjadi hakim dan mulai menjadi saudara bagi penderitaan sesama.
Pada akhirnya, novel “Janji” adalah bukti nyata bahwa sastra yang bermartabat adalah sastra yang mampu memanusiakan manusia, membuktikan bahwa di mana pun kita berada, bahasa empati adalah satu-satunya bahasa yang mampu menembus prasangka dan menyatukan hati manusia dalam satu harmoni keikhlasan yang abadi.
Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.


0 Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan