Mengenal Arabizi: Simfoni Huruf dan Angka
Pernahkah kamu melihat sebuah pesan dalam teks yang terlihat seperti kode rahasia, misalnya "3alaik" atau "7abibi"? Bagi mata yang tidak biasa, ini tampak seperti kesalahan ketik atau sandi rumit. Namun, bagi jutaan anak muda di dunia Arab, ini adalah cara mereka berkomunikasi sehari-hari. Fenomena ini disebut “Arabizi” atau Arabic Chat Alphabet, sebuah istilah portmanteau dari kata Arabic (Arab) dan Inglizi (Inggris).
Secara sederhana, Arabizi adalah cara menulis bahasa Arab (terutama dialek sehari-hari atau Ammiya) menggunakan alfabet Latin dan angka. Mengapa menggunakan angka? Karena dalam bahasa Arab terdapat bunyi-bunyi "tenggorokan" (faringal) yang tidak memiliki padanan huruf dalam bahasa Inggris atau Latin. Sebagai solusinya, angka-angka yang bentuk fisiknya mirip dengan huruf Arab pun "dipinjam". Misalnya, angka 3 digunakan untuk huruf ع (‘ayn), angka 7 untuk ح (ḥa), dan angka 2 untuk hamzah (ء). Ini adalah bukti kreativitas manusia dalam menaklukkan batasan teknologi.
Sejarah: Siapa dan Sejak Kapan?
Arabizi tidak lahir dari jalanan digital yang penuh keterbatasan. Fenomena ini mulai muncul secara masif pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Pada masa itu, teknologi pesan singkat (SMS) dan layanan chat seperti IRC (Internet Relay Chat) atau ICQ mulai merambah Timur Tengah.
Masalahnya, perangkat keras dan lunak saat itu (seperti ponsel Nokia jadul atau papan tik komputer) sebagian besar hanya mendukung karakter Latin. Jika seseorang ingin mengetik dalam huruf Hijaiyah, sistem sering kali gagal membacanya atau jumlah karakter yang tersedia sangat terbatas.
Penyebaran Global di Dunia Arab
Meskipun berawal dari pusat-pusat teknologi di Kairo, Beirut, dan Amman, tren ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah MENA (Middle East and North Africa). Di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Arabizi menjadi bahasa gaul di kalangan anak muda perkotaan. Di Afrika Utara seperti Maroko dan Tunisia, Arabizi bahkan lebih kompleks karena sering bercampur dengan kosakata bahasa Prancis. Fleksibilitasnya membuat Arabizi melintasi batas negara, menjadikannya bahasa universal bagi pengguna internet di dunia Arab. Baca juga:Rūḥ al-Riyāsah: Navigasi Akṡam bin Ṣaifī Menghadapi Quarter Life Crisis
Relevansi di Dunia Gen Z
Meskipun ponsel modern sekarang sudah mendukung huruf Hijaiyah dengan sangat baik, Gen Z tetap mempertahankan Arabizi sebagai identitas kelompok. Bagi Gen Z, Arabizi bukan lagi karena terpaksa oleh keterbatasan teknologi, melainkan sebuah pilihan gaya hidup.
Di platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp, Arabizi digunakan untuk menciptakan konten yang terasa lebih dekat dan tidak formal. Ia berfungsi sebagai kode solidaritas antar teman sebaya. Gen Z melihat Arabizi sebagai jembatan antara akar budaya Arab mereka dengan gaya hidup digital yang kebarat-baratan. Ini adalah "bahasa gaul" yang membedakan mereka dengan gaya berbahasa generasi sebelumnya yang cenderung lebih kaku.
Dampak Kebahasaan: Inovasi atau Ancaman?
Kehadiran Arabizi memicu perdebatan sengit di dunia Arab. Para ahli bahasa dan tokoh konservatif merasa khawatir bahwa Arabizi akan merusak kemampuan generasi muda dalam membaca dan menulis huruf Hijaiyah yang asli. Ada ketakutan bahwa bahasa Arab klasik, bahasa Al-Qur'an, dan sastra akan terlupakan atau dianggap kuno. Namun, dari sudut pandang sosiolinguistik, Arabizi sebenarnya adalah bentuk evolusi bahasa. Ia membuktikan bahwa bahasa Arab tetap hidup dan relevan di dunia digital. Arabizi membantu melestarikan dialek-dialek lokal yang sering kali tidak memiliki standar tulisan resmi. Dampaknya tidak selalu negatif. Arabizi justru memperkaya khazanah komunikasi dengan menciptakan ragam bahasa baru yang unik dan adaptif.
Masa Depan Arabizi: Kemana Arahnya?
Melihat ke depan, Arabizi kemungkinan besar tidak akan hilang, namun akan terus bermutasi. Dengan adanya teknologi Auto-correct dan Predictive Text yang semakin cerdas dalam bahasa Arab asli, mungkin frekuensi penggunaan Arabizi untuk fungsi praktis akan berkurang. Namun, sebagai simbol budaya, Arabizi akan tetap bertahan.
Dalam konteks masa depan, Arabizi sebaiknya dipandang sebagai aset kreativitas, bukan sebagai musuh literasi. Arabizi menunjukkan bahwa Gen Z mampu menciptakan sistem mereka sendiri untuk menjaga komunikasi tetap berjalan di tengah derasnya arus globalisasi. Selama identitas digital masih terus berkembang, angka-angka seperti 3, 7, dan 9 akan terus "berbicara" di layar-layar ponsel anak muda Arab. Hal ini membuktikan bahwa bahasa adalah sesuatu yang dinamis, hidup, dan selalu memiliki cara untuk bertahan.
Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.


0 Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan