Rūḥ al-Riyāsah: Navigasi Akṡam bin Ṣaifī Menghadapi Quarter Life Crisis


Perempat pertama dalam hidup adalah masa yang dipandang krusial bagi manusia sepanjang hayatnya. Robbins dan Wilner memperkirakan bahwa tiga dari empat orang yang mengalami   transisi dari remaja menuju dewasa akan mengalami tekanan dan ekspektasi ke fase hidup baru yang penuh ketidakpastian akan konsekuensi yang disebut sebagai quarter life crisis

Rentang usia delapan belas hingga tiga puluh tahun bukan hanya menjadi masa yang membingungkan dan penuh keputusan, namun masa pengokohan identitas dan jati diri. Pada fase ini, jiwa muda sering kali mulai mencari sosok pemimpin ideal dalam dirinya melalui aktivitas organisasi dan akademik, sembari mengkritisi pemimpin struktural di sekitarnya melalui kritik dan aspirasi.

Dalam filosofi jarwa dhosok, kata “dua puluh satu” disebut dengan “selikur” atau “seneng senenge lungguh kursi” (senang-senangnya duduk di kursi atau punya jabatan). Istilah erat kaitannya dengan fase kehidupan para pemuda yang senang ketika mendapatkan posisi atau kepercayaan. Oleh karena itu, penting adanya bimbingan agar dorongan tersebut diarahkan secara sehat sehingga terhindar dari krisis identitas.

Kebijaksanaan Akṡam dan Makna Kepemimpinan


Dalam dinamika pencarian jati diri, kebijaksanaan sang Ḥakīm al-‘Arab, Akṡam bin Ṣaifī, dapat kembali ditelaah melalui khutbah-khutbahnya yang memuat pemikiran mendalam tentang kehidupan, kritik sosial, dan kepemimpinan dalam kesahajaan masyarakat Badui.”

Inna afḍala al-asyyā’i a‘ālīhā” yang berarti “Sesungguhnya yang terbaik dari segala sesuatu adalah yang paling tinggi,” begitu sang Ḥakīm al-‘Arab membuka pidatonya di depan Kisra Persia. Jika dicermati baik-baik, kalimat ini bukan tentang makna literal semata, melainkan sebuah satire bahwa dalam segala hal, sesuatu yang berada di puncak sering dipandang menjadi standar terbaik bagi yang berada di bawahnya.

Kepemimpinan dalam pandangan Akṡam, alih-alih menjadi mahkota yang menghiasi kepala, justru merupakan cermin yang memantulkan sosok asli di baliknya—menyilaukan sekaligus menjebak. Setiap ucapan dan tindakan menyingkap integritas pemimpinnya. Hal ini ditegaskan dalam ungkapan berikutnya, “Wa afḍala al-khuṭabā’i aṣdaquhā,” yang berarti bahwa orator terbaik adalah yang paling jujur, yakni selaras antara perkataan dan perbuatannya. Dengan ini, Akṡam ingin menyampaikan bahwa dibandingkan dengan panggung unjuk diri maupun jabatan struktural, legitimasi seorang pemimpin diperoleh dengan kemampuannya mencerminkan keselarasan antara ucapan dan tindakannya, serta bagaimana ia mewakili hal-hal yang berada di bawah naungannya. 

Baca juga: Sastra Arab Klasik dan Isu Modern: Warisan Bahasa yang Terus Berbicara
Rūḥ al-Riyāsah dan Kepemimpinan Diri

Wajah suatu kelompok tercermin dari pemimpinnya. Satu noda saja dapat menodai seluruh reputasi. Kendati demikian, kepemimpinan bukanlah hal yang perlu dihindari atas dasar ketidaksempurnaan manusia. Kepemimpinan justru menuntut kita mengelola kekurangan tanpa mengorbankan integritas, serta berbuat jujur pada kekurangan diri sendiri, karena rūḥ al-riyāsah (jiwa kepemimpinan) tidak lahir dari pribadi tanpa celah, namun dari ego yang diruntuhkan untuk membangun integritas. 

Pada titik ini, quarter life crisis menemukan relevansinya. Fase ini kerap kali membuat para pemuda membandingkan proses hidup mereka dengan orang-orang seusianya, baik dalam karir, jabatan, posisi pendidikan, maupun berbagai fase kehidupan lain yang membawa pada perasaan tidak cukup. Namun, perlu kita pahami bahwa rūḥ al-riyāsah sendiri tidak memandang jabatan, karir, dan gelar. Seorang pemimpin bisa jadi bukan yang berada di atas takhta, tetapi ia yang mampu berdaulat atas hidupnya sendiri di fase mana pun ia berdiri. 

Pantulan integritas dalam diri yang baik meniupkan rūḥ al-riyāsah dalam diri dengan sendirinya. Modal inilah yang menjaga legitimasi seorang pemimpin dengan atau tanpa mahkota. Jika integritas ini ditanamkan dalam diri tiap pemuda, maka quarter life crisis akan mudah ditaklukkan.


Kepemimpinan Kolektif dan Tanggung Jawab Publik


Pribadi yang berdaulat atas dirinya akan lebih matang memikirkan kepentingan umat. Hal ini selaras dengan perkataan Akṡam bin Ṣaifī berikutnya, “Iṣlāḥu fasādi ar-ra‘iyyati khayrun min iṣlāḥi fasādi ar-rā‘ī,” yang menegaskan bahwa memperbaiki kerusakan rakyat lebih baik daripada memperbaiki kerusakan pemimpin. 

Dengan memperbaiki kerusakan umat yang berakar pada individu, kita menyiapkan wadah yang layak bagi kepemimpinan kolektif. Jika pemimpin adalah cermin rakyat, maka rakyat yang baik melahirkan pemimpin yang baik, baru dimulailah perbaikan kepemimpinan struktural. Kepemimpinan struktural hanyalah wadah dari kapasitas integritas seseorang. Wadah yang penuh menuai keteraturan dan kesejahteraan, sementara wadah yang kosong mengeringkan kepercayaan dan menghancurkan tatanan. 

Ketika seorang pemimpin struktural mengeringkan kepercayaan rakyat terhadapnya, maka kritik tajam yang diarahkan padanya adalah sah. Namun, kritik terhadap pemimpin struktural tidak boleh mengesampingkan kritik terhadap kepemimpinan dalam diri, karena sejatinya setiap kita adalah pemimpin; maka kritik harus disampaikan layaknya seorang pemimpin, dengan penuh integritas dan kejujuran.

Integritas dan kejujuran dalam setiap kata dan kalimat dimulai dari memilih setiap ucapan yang keluar dari lisan kita. Pemilihan kata yang baik menunjukkan kedalaman berpikir. Mengobral janji bukanlah solusi, martabat tidaklah datang dari nada yang tinggi, sebagaimana “Al-ṣumtu ḥikmatun wa qalīlun fāʿiluhu” (diam adalah kebijaksanaan tetapi sedikit sekali yang melakukannya). Al-ṣumtu berbeda dengan al-sukūtu. Al-Shumtu dapat berarti diam yang dipilih bukan sekadar diam secara pasif, namun bagaimana menempatkan tiap kata pada tempatnya, memberikan kritik dengan bijak dan teguh, serta menahan kata yang tidak perlu. Kebijaksanaan tidak datang dengan berisik, tetapi melalui tindakan dan integritas. Namun, hal itu bukan berarti kita harus diam saat terjadi ketidakadilan. Pendapat ini dikuatkan oleh Abu ‘Ali al-Daqqaq “Al-sākitu ʿan al-ḥaqqi shayṭānun akhras” (orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan bisu). 

Akṡam tidaklah diam secara pasif. Ketika ia datang menghadap Kisra Persia, ia membawa kalimat-kalimat yang telah dipilah dengan tajam—sebuah power of calculated speech, kekuatan dari kata yang terukur. Kritiknya berbobot dan tepat sasaran, dihunus seperti anak panah yang dilepaskan dengan penuh perhitungan. Ketegasan itu bukan lahir dari emosi sesaat, melainkan dari kontrol diri yang ditempa melalui pergulatan batin yang intens. Pada akhirnya, puncak dari proses itu adalah ketenangan, yaitu kemampuan menghadapi situasi besar tanpa kehilangan kejernihan sikap. 


Penutup

Badai dalam diri pada fase quarter life crisis tidak akan benar-benar reda kecuali seseorang mencapai ketenangan. Ketenangan itu lahir dari keberanian menelaah diri, memimpin diri sendiri, dan berhenti membandingkan hidup dengan hal-hal yang tidak perlu. Dari sanalah integritas tumbuh, karena kepemimpinan sejati selalu berawal dari penguasaan atas diri. 

Gelar dan jabatan memang bukan penentu murni kepemimpinan. Namun, keduanya tetap perlu dicermati, sebab menyangkut kepentingan publik. Pada akhirnya, bukan mahkota yang memberi legitimasi, melainkan ketenangan dan wibawa yang memancar dari dalam diri. Sebab rūḥ al-riyāsah (jiwa kepemimpinan) tidak pernah berbohong. Maka, mulailah dari kejujuran, wahai para pemimpin.  Sania Ru’su ‘AisyaMahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih.



Posting Komentar

0 Komentar