Akhir pekan sore itu, aku kembali bertekur dengan laptop dan naskah-naskah tua di sudut perpustakaan yang kebetulan sepi – mungkin karena rintik hujan yang terus mengguyur kota ini tanpa lelah sejak dini hari tadi. Jangan kira aku mahasiswa rajin dan teladan hanya karena tetap pergi ke perpustakaan dan menyentuh barang yang seharusnya disingkirkan sejenak di sore yang suram akhir pekan ini. Oh tentu tidak! Aku tidak serajin itu, Kawan. Asal kalian tahu, aku tak mungkin rela menukar waktu akhir pekanku yang tidak seberapa itu dengan sibuk berkencan bersama barang-barang memuakkan ini. Aku tidak melakukan semua ini sebagai pelarian atau keinginan, tapi sebuah keharusan: sebuah deadline. Jika tidak karena terburu ingin segera melakukan seminar proposal – sementara banyak teman-teman yang sudah lulus dari agenda itu, mana mungkin aku menghabiskan waktu berjam-jam di akhir pekan ini di tempat yang sangat kuhindari. Ya, aku sangat anti perpustakaan.
Jangan heran, meski aku anak sastra, aku bukan tipe yang suka menghabiskan waktu luang dengan pergi ke perpustakaan atau apalah sejenisnya. Aku mengambil jurusan dengan keyakinan: sastra pasti mudah. Tidak ada angka, rumus, teori, dan sejenisnya. Tapi aku tak tahu bahwa ternyata segala hal dalam sastra sangat-sangat di luar ekspektasiku. Penuh tulisan yang jika salah makna dan penafsiran satu kata saja, bisa menjungkirbalikkan isinya. Ternyata, sastra yang kukira menjadi penyelamat, justru membuatku semakin sekarat. Mungkin, inilah cara ia balas dendam padaku karena menjadikannya sebagai pelarian.
Sebenarnya, hampir semua temanku berkata, “Masya Allah! Anak sastra Arab, nih!” saat aku mengatakan jurusan yang kupilih, dulu. Aku hanya bisa meladeni mereka dengan senyum-senyum saja, karena memang aku anak yang sangat sulit bergaul. Namun, di keluargaku – yang rekam jejaknya kebanyakan di bidang pendidikan, kesehatan, dan juga bisnis – pilihanku diragukan. Katanya, “Kalau kamu pilih jurusan itu, nanti kamu mau jadi apa?” dan saat itu aku dengan tegas menjawab, “Insyaallah bisa jadi apa saja. Jadi guru bisa, penerjemah bisa, kedutaan juga bisa.” Tetapi, semakin ke sini aku semakin ragu, mungkinkah aku bisa membuktikan pada mereka akan jawabanku itu? Keraguan muncul dalam benakku. Hingga suatu ketika, pertanyaan terbesit dalam kepalaku, “Memang, apa gunanya syair-syair tua ini untuk dipelajari?”
Baca juga:Melophile
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku. Sampai kala itu, aku kembali membuka buku usang berisi naskah-naskah tua yang kuambil secara acak sembari menunggu ide muncul untuk meneruskan proposal – dengan judul “Relevansi Sastra Arab Klasik dengan Isu Kontemporer” – yang belum bertambah satu huruf pun sejak aku menginjakkan kaki di perpustakaan ini. Memang terkesan sok sekali aku memilih judul itu, namun apa daya di antara beberapa judul yang kuajukan, dosen pembimbing skripsiku justru tertarik dengan judul itu.
Kutekuri bait demi bait, halaman demi halaman, dari buku tua itu. Hingga aku merasa tersindir – entah pada halaman ke berapa – atas bait yang kubaca.
ذُو الْعَقْلِ يَشْقَى فِي النَّعِيمِ بِعَقْلِهِ
وَأَخُو الْجَهَالَةِ فِي الشَّقَاوَةِ يَنْعَمُ
“Orang berakal menderita meski hidup dalam kenikmatan,
sementara orang yang tak mau berpikir merasa nyaman meski hidup dalam kesempitan.”
Tanpa kusadari, hujan telah berhenti. Meninggalkan senja yang datang menyelimuti langit kota ini. Perlahan tapi pasti, kututup buku itu dan mulai mengetik satu per satu huruf pada keyboard laptopku. Sebuah kalimat pembuka, yang kali ini tak hanya kuisi dengan keraguan, namun juga kejujuran. Kini aku pun tersadar, mungkin syair-syair itu tidak bisa menjanjikan masa depanku. Namun, ia bisa menjelma sebagai teman dalam menghadapi keraguan orang-orang sepertiku.


0 Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan