Lingkungan Yang Tidak Lebih Baik Dari Sebuah Karya Sastra : Teori Ekokritisisme & Historicism

 


Seperti yang kita ketahui, karya sastra Arab memiliki spektrum tema yang sangat luas seperti puisi romansa, ejekan, pujian, satir, hingga perenungan filosofis tentang nomaden di padang pasir. Saat ini, tema-tema tersebut terus bertransformasi. Dari konteks  lingkungan hidup, sastra Arab klasik cenderung menyuarakan representasi alam melalui deskripsi kehidupan badui, perayaan kabilah, serta romantisme rembulan di balik gersangnya sahara. 

Mungkin sulit kita membayangkan sastra Arab mendeskripsikan lanskap hutan yang rimbun, sungai yang mengalir jernih, dan ekosistem sungai yang melimpah. Hal ini dikarenakan kondisi geografis sosiologis wilayah tersebut jarang menyajikan panorama demikian. Meski begitu, bukan berarti tema tersebut nihil. Terdapat karya sastra yang mulai bergeser dari sekadar mendeskripsikan padang pasir menuju penyuaraan isu-isu lingkungan yang lebih kritis. Berikut adalah analisis terhadap karya sastra Arab yang mengangkat isu ekologi dan sejarah. 

Ekokritisisme terhadap Antologi Puisi “Hams al-Juffun” Karya Mikhail Naimy

Ekokritik adalah paradigma yang berusaha untuk mengkaji atau menganalisis karya sastra berdasarkan dari sudut pandang lingkungan hidup. Kajian ini berupaya mengamati bahwa krisis lingkungan hidup tidak hanya menimbulkan pertanyaan teknis, ilmiah, dan politis, melainkan juga problematika kultural yang terkait dengan fenomena sastra.

Mikhail Naimy sendiri merupakan novelis, sastrawan Mahjar, dan seorang filsuf. Beliau lahir di salah satu desa kecil, tepi Gunung Sannin, Lebanon, pada 17 Oktober 1889. Dari lingkungan hidupnya itulah lahir puisi-puisi yang banyak sekali menyuarakan isu lingkungan. 

Puisi “Hams al-Juffun” merupakan salah satu karya beliau yang terkenal, di dalamnya memuat tiga tema puisi, salah satunya adalah tentang al-kauniyyah (alam). Salah satu fragmen puisinya berjudul “Aghmid Jufunaka Tubshir”.


إذا سماؤك يوما # تحجبت بالغيوم
أغمض جفونك تبصر # خلف الغيوم نجوم

jika suatu hari matamu tertutup oleh awan-awan, maka pejamkanlah matamu agar kau dapat melihat Bintang-bintang di balik awan”


Kata “awan-awan” pada kalimat “jika suatu hari matamu tertutup oleh awan-awan” bukanlah awan yang sesungguhnya berwarna putih, melainkan awan-awan yang terbentuk karena polusi antropogenik yang keluar dari pabrik-pabrik, mobil, motor, dan angkutan umum lainnya. Semua asap itu membumbung tinggi ke langit, membentuk seperti awan atau kabut, lalu tersebar mengikuti udara di sekitar kita. Selain itu, frasa “matamu tertutup” tidak dimaknai secara harfiah, melainkan menunjukkan bahwa polusi telah mencapai tingkat kronis sehingga degradasi kualitas udara menghambat aktivitas manusia di  ruang publik.

Baca Juga: Visi Ekologis dan Kritik Peradaban dalam Puisi Ala Bisath ar-Rih

Arab Spring dalam Sastra Arab

Fenomena Arab Spring dipicu aksi bakar diri seorang pedagang buah dan sayur, Mohamed Bouazizi, di Tunisia pada 17 Desember 2010. Bouazizi nekat membakar dirinya sebagai protes atas tindakan polisi setempat yang menyita barang dagangannya. Akibat luka bakar yang terlampau parah, ia akhirnya meninggal di rumah sakit. Aksi ini mendapat simpati masyarakat luas yang kemudian berkembang menjadi protes massa terhadap pemerintah atas buruknya kondisi perekonomian Tunisia dan perilaku korup para elite pemerintahan. Berkat dukungan militer, aliansi rakyat Tunisia akhirnya berhasil melengserkan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali dari kekuasaannya pada 14 Januari 2011. Dari Tunisia, aksi ini kemudian menjalar ke seantero Timur Tengah. Para pengamat menyebut gelombang aksi ini dengan Arab Spring.

Salah satu karya sastra Arab yang menyuarakan peristiwa Arab Spring adalah novel At-Thabur karya Basma Abdel Aziz. Novel tersebut menggambarkan kondisi Mesir pasca-Arab Spring, ketika lingkungan sosial memburuk akibat demonstrasi yang berlangsung pada 2011–2013. Pemerintah juga dinilai gagal memperbaiki tatanan birokrasi pelayanan masyarakat. Selain itu, pemadaman listrik menyebabkan berbagai rumah sakit mengalami antrean panjang, baik dari korban kekerasan saat demonstrasi maupun pasien penyakit yang penyebarannya terlambat ditangani akibat buruknya kondisi kesehatan masyarakat.

Kesimpulan 

Karya sastra Arab akan terus berkembang seiring perkembangan dunia. Tema-tema yang baru sangat memungkinkan untuk muncul lebih banyak lagi, terlebih di dunia digital seperti saat ini. Kajian-kajian terkait karya sastra Arab tidak akan terbatas pada isu lingkungan, politik, romansa, hingga disrupsi teknologi. Mungkin saja suatu saat nanti akan ada karya sastra Arab yang mengangkat tentang teknologi masa kini. Penulis berharap opini ini dapat menjadi gambaran awal bagi para peneliti sastra Arab di masa mendatang. Selain itu, penulis juga berharap para peneliti tidak berhenti pada satu sumber informasi, karena karya sastra Arab beserta kajian-kajian terhadapnya sangat beragam dan dapat diakses secara luas.

Daftar Pustaka

2021, Muhammad Saiful Anam, Tesis : Puisi Bervisi Lingkungan Hidup (Studi Ekokritisisme Terhadap Antologi Puisi Hams Al-Jufün Mikhail Naimy). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 181 halaman.

2018, Mohammad Affan, jurnal : Arab Spring dalam Sastra Arab: Ekspresi dan Representasi, Al-Irfan, Volume 1, September, 24 halaman.

 2013بسمة عبد العزيز, رواية: الطابور, بيروت - القاهرة - تونس,طبعة دار التنوير الأولى


Roisatul Imanah Islamiyah, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.



Posting Komentar

0 Komentar