Isu ekologi merupakan salah satu topik yang sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keserakahan manusia menimbulkan krisis lingkungan di berbagai belahan dunia. Krisis lingkungan yang terjadi mendorong para tokoh maupun aktivis lingkungan untuk menyuarakan isu lingkungan di berbagai media massa.
Salah satu media yang digunakan untuk menyuarakan isu ekologi adalah karya sastra. Tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra menjadi salah satu media yang paling efektif dalam menyampaikan isu lingkungan ke ranah publik. Banyak sekali sastrawan yang mengangkat tema ekologi dalam karya mereka, seperti Fawzi al-Ma'luf, Amin al-Rihani, dan Kahlil Gibran.
Salah satu tokoh sastra yang akan dibahas pada artikel ini adalah Fawzi al-Ma’luf. Ia merupakan seorang penyair asal Lebanon yang menjadi tokoh penting dalam kesusastraan Arab modern, khususnya dalam kelompok penyair Mahjar. Ia bermigrasi dari Lebanon menuju Amerika Latin, tepatnya di Brasil, bersama saudaranya, Shafiq al-Ma'luf. Di sana, ia aktif dalam komunitas sastra yang dikenal dengan nama Al-Usbah al-Andalusiyyah (Liga Andalusia).
Fawzi al-Ma'luf dikenal sebagai penyair dengan gaya bahasa yang halus, melankolis, dan penuh dengan simbol, serta cenderung ke arah romantisisme. Karya-karyanya sering kali merefleksikan kegelisahan batin, pencarian spiritualitas, dan kritik terhadap keterikatan manusia pada materi. Salah satu karyanya adalah puisi Ala Bisath ar-Rih.
Ala Bisath ar-Rih merupakan puisi panjang yang paling terkenal di antara karya-karyanya yang lain. Puisi ini menggunakan simbol-simbol ekologi untuk menyampaikan nilai-nilai filosofis mengenai eksistensi manusia dan kerinduan tanah air. Namun jika dilihat dari kacamata ekologi, puisi ini juga merupakan bentuk sindiran kepada manusia atas kerusakan ekologi di muka bumi.
Jika dibaca melalui perspektif ekokritik, puisi ini memperlihatkan kontras yang tajam antara ruang bumi yang telah rusak oleh ulah manusia dan ruang langit yang masih murni. Hal ini tergambar dalam potongan puisi berikut.
بعيداً عن الوجود وظلمه
عبد عصر من التمدن نلهو ضلّةً عن لبانه بقشوره
موطن الشاعر المحلّق منذ البدء لكن بروحه لا بجسمه
Jauh dari dunia dan kezaliman yang mengisinya.
Hamba dari zaman peradaban yang membuat kita lalai, tersesat oleh kulitnya hingga abai akan intisarinya.
Di sanalah negeri sang penyair melayang sejak awal, bukan dengan tubuhnya, tapi dengan ruhnya.
Dalam potongan puisi tersebut, Fawzi al-Ma'luf menggambarkan kondisi bumi yang penuh kezaliman. Kezaliman tersebut merupakan bentuk kelalaian dari ambisi manusia dalam membangun peradaban tanpa mempetimbangkan alam, sedangkan potongan puisi yang ketiga mengungkapkan langit sebagai tempat yang masih alami dan tidak tersentuh oleh manusia. Tempat seperti itulah yang seharusnya ditempati oleh manusia.
Dalam puisi Fauzi al-Ma’luf, tidak hanya digambarkan kondisi kontras antara langit dan bumi, tetapi juga menggambarkan alam sebagai subjek hidup, bukan objek mati. Dalam pandangan ekologi, alam tidak dipandang sebagai komoditas, melainkan organisme yang memiliki perasaan, seperti yang digambarkan pada potongan puisi berikut.
ما أنين الرياح غير زفير نزعته الرياح من رئتيه
ونواح الطيور غير عويل نقلته الطيور عن أصغريه
Isakan angin itu tidak lain adalah desah napas yang ditarik oleh angin langsung dari paru-parunya.
Tangisan burung-burung itu tidak lain adalah raungan yang didengar oleh burung-burung itu dari dalam hatinya.
Dalam puisi ini juga disisipkan kritik terhadap teknologi dan kolonialisme ruang. Kritik tersebut terlihat pada potongan puisi burung-burung bertanya apakah manusia datang untuk "menjajah langit". Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi manusia tidak berhenti di bumi saja, tetapi menembus hingga langit. Di sini burung sebagai perwakilan dari satwa yang hidup di langit merasa terganggu dengan kehadiran manusia yang biasanya merusak ekosistem mereka.
Pada puisi ini, Fawzi al-Ma’luf juga menyisipkan sindiran keras kepada manusia terhadap nilai ekologis mereka.
كما كان أصله من ترابِ الأرض يغدو مصيره لترابه
Manusia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah.
Dari potongan puisi tersebut, penyair menyampaikan kritik kepada manusia. Secara radikal, ia menyampaikan bahwa eksistensi manusia sebagai makhluk hidup sering kali merusak alam ketimbang menjaganya, dan nilai ekologisnya tercapai ketika manusia membusuk dan kembali ke tanah.
Dengan demikian, puisi Ala Bisath ar-Rih karya Fawzi al-Ma’luf bukan hanya sekadar puisi reflektif, namun juga kritik tajam terhadap kerusakan lingkungan akibat ambisi peradaban manusia. Fawzi al-Ma’luf mampu menggambarkan kontradiksi antara bumi yang telah tercemar oleh kezaliman manusia dengan langit yang masih murni melalui simbolisme yang halus. Puisi tersebut juga menegaskan bahwa alam bukan sekadar komoditas material, melainkan subjek hidup yang harus dijaga. Pada akhirnya, puisi ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali relasi manusia dengan alam, sekaligus mengkritik arah peradaban yang semakin menjauh dari keseimbangan ekologis.
Referensi:
https://journal.pubmedia.id/index.php/jbdi/article/view/2315/2325
https://poetsgate.com/poem.php?pm=54713
Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksah. Terimakasih.


0 Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan