Pemuda, Politik Identitas dan Berita Hoaks

albayaanaat.com - Dalam rangka memperingati International Women’s Day, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor berkolaborasi dengan Yayasan LKiS mengadakan webinar dengan tema “Peran Anak Muda dalam Melawan Politik Identitas dan Mis/Disinformasi” pada Selasa, 15 Maret 2022.

Tidak dapat dimungkiri bahwa politik identitas menjadi isu ‘andalan’ bagi sejumlah kontestan suksesi kepemimpinan baru-baru ini. Memang tidak semuanya memenangkan kompetisi, tetapi perolehan suaranya juga tidak rendah.

Kompetisi politik sudah berakhir. Namun, kerusakan akibat embusan isu politik identitas terus berlangsung dan makin parah. Masyarakat terpolarisasi. Aksi kekerasan SARA dan intoleransi kerap terjadi di berbagai daerah. Padahal, sebelumnya dunia sudah mengenal Indonesia sebagai negara multietnik yang sangat damai. Hidup berdampingan dengan etnis dan pemeluk agama atau keyakinan lain bukanlah hal baru. Bahkan, toleransi adalah budaya asli bangsa Indonesia.

Baca juga: Warisan Nama Baik (albayaanaat.com)

Pemuda secara umum adalah komponen sosial yang terpinggirkan, paling sedikit diberi ruang untuk berbicara dan nasibnya ditentukan oleh mereka yang paling benar. Peran pemuda seolah dibatasi oleh stigma masyarakat yang menganggap mereka dengan sebelah mata. Tidak hanya itu, pemuda juga berperan dalam menangkal berita hoaks dan disinformasi di media sosial karena survei membuktikan bahwa sebagian besar pengguna aktif di berbagai platform adalah pemuda. 

Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan sambutan hangat dari Tri Noviana selaku Manajer Program Yayasan LKiS dan Ketua LPM Rhetor, Dewi Sinta Nuriyah. Setelah sambutan, acara inti dibuka oleh moderator Yusrizal dengan menyajikan tiga narasumber yang masing-masing membawakan topik yang sangat menarik. Narasumber yang pertama adalah Dr. Samsul Ma’arif selaku dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center of Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau menyampaikan materi dengan tema “Politik Identitas”. Narasumber kedua adalah Bentang Febrylian seorang Senior Fact Checker Masyarakat Anti Fitnah dan Hoaks (MAFINDO) yang menyampaikan materi “Mis/Disinformasi dan Cek Fakta”. Kemudian pada sesi kedua diisi oleh narasumber terakhir yaitu Heronimus Heron dengan materi “Peran Pemuda dalam Melawan Politik Identitas dan Mis/Disinformasi”.


Salah satu topik menarik yang dibahas dalam webinar ini adalah langkah bijak bermedia sosial agar terhindar dari paparan berita hoaks, di antaranya:

1. Merahasiakan data pribadi

2. Posting yang penting, bukan yang penting posting

3. Tidak membuat dan menyebarkan mis/disinformasi

4. Jangan membuka link pornografi

5. Tidak selfie dan wefie berlebihan

6. Menggunakan bahasa yang sopan

7. Mengontrol waktu bermedia sosial

8. Mengikuti komunitas yang aktif, kreatif, dan produktif

Baca Juga: Terus Tingkatkan Kualitas, Prodi Bahasa dan Sastra Arab Gelar Pelatihan Penulisan Dua Hari Berturut-turut (albayaanaat.com)

Pada akhir sesi, Dr. Samsul Ma’arif menyampaikan closing statement yang merupakan pesan kepada pemuda, “Start Up, Speak Up, dan Robohkan Statement Masyarakat.” Dengan adanya webinar, diharapkan peserta dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang politik identitas, peran pemuda melawan mis/disinformasi serta dapat berlatih cara memverifikasi informasi. 

(Ade Surya/Tim Editor)

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih.

Posting Komentar

0 Komentar