Buku Bajakan yang Meresahkan


Albayaanaat.com- “Kejam sekali memang industri bajakan. Dan itulah salah satu realitanya. Keluarga penulisnya hidup miskin, sementara pembajak, penikmat buku bajakan, pembaca e-book ilegal, mereka bahkan memiliki HP, baju, sepatu, yang harganya hanya mimpi bagi anak-anak penulis buku tersebut.” (Tere Liye, 2020).

Akhir-akhir ini isu mengenai buku bajakan kembali banyak dibicarakan. Semakin merajalelanya industri ini, hingga tidak terhitung lagi jumlah buku bajakan yang dihasilkan. Isi buku yang sama dengan yang orisinal, membuat banyak orang beralih ke buku bajakan. Buku bajakan ini hadir dan dianggap sebagai alternatif bagi seseorang yang ingin membaca buku dengan harga lebih murah. Perbuatan ini sangat menyalahi aturan. Padahal mampu untuk membeli buku orisinal untuk dibaca.

Para pembajak dan penikmat buku bajakan menganggap hal ini adalah suatu bentuk kewajaran. Dibandingkan dengan penulis buku aslinya, seorang pembajak dan penikmat buku bajakan justru hidupnya lebih kaya. Jika sebuah buku best seller dibajak, maka seseorang berusaha untuk mencari buku tersebut. Mereka akan memilih harga yang miring agar dapat menikmati bacaannya, daripada harus menguras kantong untuk membeli buku orisinal yang lebih mahal harganya. “Yang penting murah, toh isinya juga sama tidak ada yang berbeda,” salah satu pernyataan yang sering didengar.

Baca juga: Belajar Tatap Muka, Langkah Bagus atau Bunuh Diri?

Buku bajakan terbilang murah, misalnya ada satu buku best seller orisinal yang dijual dengan harga Rp150.000,00.  Jika sudah dibajak, maka harganya akan turun drastis menjadi Rp30.000,00 per item. Apakah orang-orang tidak tergiur dengan harga yang sangat miring tersebut? Tentu saja jawabannya “iya”. Sungguh buku bajakan ini benar-benar meresahkan. Parahnya lagi, maraknya buku bajakan tidak hanya hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk nonfisik. Sering ditemui banyak file e-book ilegal yang dibagikan secara gratis pada platform media sosial serta website yang tidak resmi. Hal ini menyebabkan minat untuk membeli buku orisinal semakin menurun.

Mengapa hal ini penting untuk dibahas? 

Seorang penulis yang telah menyelesaikan satu karya pasti menempuh berbagai rintangan hingga akhirnya menjadi sebuah buku. Mereka mencari ide dan bahan untuk tulisannya hingga larut malam. Tidak berhenti sampai di sini, untuk menjadikannya sebagai suatu bentuk karya fisik, maka harus ada editor yang mengoreksi naskah, layouter yang terkantuk-kantuk menyelesaikan design cover agar menarik minat pembaca, serta percetakan yang mengepul asap percetakannya karena banyak buku yang perlu dicetak. Semua itu membutuhkan apresiasi atas segala jerih payah hingga terbit satu karya yang dapat dinikmati pembaca.

Apakah etis seorang pembajak buku yang tidak membayar hal itu, tetapi mengambil semua hak mereka?

Baca juga: UIN Sunan Kalijaga Gelar "International Webinar Series One" Dengan Mengundang Narasumber dari Fatih Sultan Mehmet Vakif University of Turkey

Sebagai seorang pembaca yang budiman, buku merupakan wawasan yang tidak ternilai harganya. Hendaknya dalam rangka menambah wawasan serta mencari keberkahan, seorang pembaca memulainya dari hal baik yaitu dengan cara membeli buku orisinal atau e-book yang berasal dari website khusus dan terpercaya. Adapun untuk memudahkan dalam membedakan buku orisinal dan bajakan yaitu dari segi fisik bukunya. Kertas yang digunakan dalam buku bajakan berupa kertas buram yang merupakan fotokopian dari buku aslinya. Tulisan di dalamnya pun menjadi tidak rapi.

Bukankah terasa tidak nyaman jika membaca buku dalam keadaan seperti itu?

Supaya tidak menjadi bagian dari penikmat buku bajakan, maka dapat diantisipasi dengan memanfaatkan layanan peminjaman buku secara gratis. Sekarang tidak perlu repot datang ke perpustakaan untuk meminjam buku karena sudah ada perpustakaan digital yang bisa diakses melalui ponsel tanpa batas waktu dan tempat. Selain itu, banyak didirikan ruang baca yang bukunya dapat dipinjam, dibaca secara gratis, dan jangan lupa ada teman baik yang bersedia untuk meminjamkan buku.

Mari edukasikan dengan dimulai dari diri sendiri untuk menjadi pembaca yang bijak. Belilah buku orisinal dari toko buku terpercaya serta e-book dari website resmi, serta pilah dan pilihlah buku-buku yang baik dan bermanfaat. Karena dibalik maraknya buku bajakan, terdapat penulis dan banyak pihak yang terzalimi.

Eka Novitha Utami. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Anggota UKM Exact UIN Sunan Kalijaga

Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih. 

Posting Komentar

1 Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan