Cermin Lama untuk Wajah Baru: Menggali Relevansi Sastra Arab Klasik di Era Disrupsi

        

                                               

        Tahun 2026 ini, kita hidup dalam paradoks yang membingungkan. Teknologi menghubungkan kita dengan siapa saja di belahan dunia mana pun dalam hitungan detik, namun rasa kesepian dan krisis identitas justru menjamur di kalangan generasi muda. Kita dibanjiri informasi, tetapi kering akan hikmah (kebijaksanaan). Lantas, di tengah hiruk-pikuk notifikasi gawai dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin mendominasi, masihkah ada tempat bagi syair-syair berdebu dari gurun pasir ribuan tahun silam?                                      

Melawan Budaya Instan dengan Kedalaman Makna

Isu modern yang paling kentara hari ini adalah pendangkalan makna akibat budaya "scroll" yang serba cepat. Kita terbiasa dengan konten 15 detik. Sebaliknya, sastra Arab klasik mengajarkan seni ta'ammul (kontemplasi).

Mari kita ambil contoh ketangguhan mental (resiliensi) yang digambarkan dalam syair pra-Islam. Para penyair seperti ‘Antarah bin Shaddad tidak berbicara tentang keputusasaan saat menghadapi penolakan sosial atau kerasnya alam. Mereka mengubah penderitaan menjadi kehormatan (muru'ah). Di era di mana kesehatan mental menjadi isu krusial, semangat stoikisme yang terkandung dalam bait-bait klasik ini bisa menjadi terapi. Bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh validasi eksternal (atau dalam bahasa modern: likes dan views), melainkan oleh keteguhan prinsip.

Kritik Sosial yang Tak Lekang Waktu

Selain aspek personal, sastra Arab klasik juga memuat kritik sosial yang relevan dengan kondisi politik dan sosial kita hari ini. Jika kita membaca Kalilah wa Dimnah karya Ibnu al-Muqaffa’, kita tidak sedang membaca dongeng hewan semata. Kita sedang membaca satir tajam tentang intrik kekuasaan, penjilat di lingkaran pemimpin, dan manipulasi informasi serta hal-hal yang sangat akrab di telinga kita saat melihat berita politik modern.

Tengoklah juga Al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Analisisnya tentang siklus kebangkitan dan kejatuhan peradaban, serta pentingnya solidaritas sosial (ashabiyah), adalah pisau bedah yang tajam untuk menganalisis disintegrasi sosial yang terjadi di masyarakat urban saat ini. Sastra klasik mengingatkan kita bahwa meski teknologi berubah, tabiat dasar manusia—keserakahan, hasrat kekuasaan, dan kebutuhan akan solidaritas—tetaplah sama.

baca juga: Kutuk Aku Jadi Batu  

            Oase di Tengah Gurun Algoritma

Membaca kembali sastra Arab klasik bukanlah sebuah langkah mundur ke masa lalu. Ia adalah upaya mengambil jeda. Di saat algoritma media sosial mendikte apa yang harus kita suka dan kita pikirkan, sastra klasik mengajak kita kembali menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir dan merasa.

Sebagai penutup, relevansi sastra Arab klasik dengan isu modern terletak pada kemampuannya menyentuh "DNA" kemanusiaan kita. Ia adalah cermin lama yang jernih. Saat kita bercermin di sana, kita tidak melihat wajah orang Arab abad ke-6 atau ke-8, melainkan kita melihat wajah kita sendiri: manusia modern yang rindu akan makna, kebenaran, dan kedamaian batin. Sudah saatnya kita berhenti menganggap sastra klasik sebagai "masa lalu". Ia adalah dialog abadi yang menunggu untuk kita hidupkan kembali.

Septian Ridho Razaki, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta


Tim redaksi al-Bayaanaat menerima naskah tulisan berupa, opini, kajian bahasa dan sastra, cerpen, puisi, dan resensi buku. Tema bebas, disesuaikan dengan karakter albayaanaat.com sebagai media mahasiswa cendekia bernafaskan bahasa, sastra, dan budaya yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Silahkan kirim karya tulis kalian ke email redaksi albayaanat.uinsuka@gmail.com dengan melampirkan biodata diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Untuk syarat dan ketentuan pengiriman naskah, silahkan klik kirim naksahTerimakasih.

Posting Komentar

0 Komentar